Sabtu, 31 Maret 2012

Manusia dan Cinta Kasih


MANUSIA DAN CINTA KASIH

Sebagai individu manusia pasti bisa merasakan arti kata cinta di hidup. Bagaimana tidak, Tuhan pasti memberikan makhluknya cinta di dalam jiwanya. Bukan hanya manusia, bahkan hewan pun bisa merasakan cinta. Menurut pendapat saya cinta itu bersifat universal, siapapun bisa merasakannya. Sifat cinta dalam pengertian abad ke 21 mungkin berbeda daripada abad-abad yang lalu. Ungkapan cinta mungkin digunakan untuk meluapkan perasaan seperti berikut:
·         Perasaan terhadap keluarga
·         Perasaan terhadap teman-teman, atau philia
·         Perasaan yang romantis atau juga disebut asmara
·         Perasaan yang hanya merupakan kemahuan, keinginan hawa nafsu atau cinta eros
·         Perasaan sesama atau juga disebut kasih sayang atau agape
·         Perasaan tentang atau terhadap dirinya sendiri, yang disebut narsisisme
·         Perasaan terhadap sebuah konsep tertentu
·         Perasaan terhadap negaranya atau patriotisme
·         Perasaan terhadap bangsa atau nasionalisme

Ada tiga tingkatan cinta di dalam kehidupan ini :

Pertama, cinta atas dasar harapan mendapat sesuatu. Yaitu ketika seorang yang mencintai kekasihnya karena menginginkan sesuatu dari kekasihnya itu. Dan sesuatu yang diinginkannya itu biasanya berujud materi.

Kedua, cinta atas dasar mengharap ridho kekasih. Cinta seperti ini lebih tinggi tingkatannya dari yang pertama. Yaitu mencintai kekasih karena semata mengharap ridhonya. Orang yang memiliki cinta tingkat kedua ini akan melakukan apapun secara sukarela dengan tujuan agar kekasih mendapatkan kebahagiaan. Agar kekasih memperoleh kesenangan. Agar kekasih terhindar dari marabahaya, dll. Terkadang ada dia berani mengambil resiko besar dalam melakukan hal-hal tersebut. Terkadang dia bersedia melakukan sesuatu yang konyol dan memalukan. Terkadang dia mau melakukan sesuatu yang tidak masuk akal.

Ketiga, cinta atas dasar mengharap Ridho Allah sekaligus ridho kekasih. Inilah cinta sejati. Inilah cinta tertinggi. Pada cinta jenis kedua (mengharap ridho kekasih), adakalanya orang tersebut melakukan sesuatu dengan tulus namun apa yang dilakukannya itu tidak diridhoi oleh Allah, Sang Pencipta Cinta. Artinya apa yang dilakukannya itu menyimpang dari aturan-aturan agama. Jika demikian adanya, maka dia dan kekasihnya tidak akan merasakan kebahagiaan sejati. Yang dirasakannya hanyalah kesenangan jangka pendek dan bersifat semu.
Dalam kehidupan manusia, cinta menampakan diri dalam berbagai bentuk. Kadang – kadang seseorang mencintai dirinya sendiri. Kadang – kadang mencintai orang lain. Atau juga mencintai anak dan istrinya, hartanya, Allah dan rasulnya.

Cinta merupakan suatu hal yang sulit untuk dijelaskan. Setiap orang pasti memilki pengertian atau presepsi yang berbeda soal cinta. Cinta itu ibarat air hujan yang semua orang tidak dapat memprediksi datangnya dan juga akan turun ke semua orang. Dizaman yang sudah era globalisasi ini, cinta merupakan hal yang biasa. Bahkan anak yang masih ingusan pun mengerti tentang cinta walaupun mereka tak tahu makna sebenarnya tentang cinta.  Pacaran pun terkadang  orang membuktikan dengan cinta. “Kalau Cinta sudah melekat tai kucing rasa coklat”, maksudnya adalah jika seseorang sudah terjangkit dengan yang namanya virus cinta pasti di dapat melakukan segala hal untuk cintanya itu. Tetapi apakah makna sejati tentang cinta ? Tidak ada Cinta sejati didunia hanya cinta Tuhan kepada umatnya dan cinta orangtua kepada anaknya. Tanpa cinta hidup kita tak akan menjadi indah.



Nama  : Ferdy Robiyanto
Kelas   : 1ka12
NPM    : 12111825




Manusia dan Kesusastraan


MANUSIA DAN KESUSASTRAAN

Manusia dan kesustaraan memiliki hubungan yang saling mengisi yaitu antara sastra dan seni, sebelum mengetahui hubungan sastra dan seni kita harus tahu apa itu sastra dan apa itu seni. Sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakainan dalam suatu bentuk gambaran kongkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa. Sedangkkan Seni adalah ketrampilan yang diperoleh melalui pengalaman, pengamatan atau proses belajar. Sebagai contoh yang menghubungkan Sastra dengan kemampuan manusia yang berseni adalah drama dan teater. Seperti contohnya, teater yang menceritakan tentang sebuah kisah, maka manusia dituntut untuk dapat memainkan peran yang diperagakan agar dapat terasa apa yang dicerikan itu, padahal cerita tersebut hanya karangan atau bahkan imajinasi dari pengarang . Tapi dengan adanya manusia yang memerankan peran yang dimaksud dengan menjiwai karekternya masing-masing, kita dapat merasakan dan juga ikut masuk ke dalam cerita tersebut.
Diperlukan keahlian yang khusus untuk dapat memainkan peran yang baik menggunakan bahasa yang baik pula. Sastra juga termasuk seni yang bisa dikembangkan dengan baik oleh manusia yang berkreatif. Tanpa adanya manusia, sastra pun tidak akan pernah muncul, karena sastra berakar dari kepribadian seorang manusia itu sendiri.

Nama : Ferdy Robiyanto
Kelas  : 1KA12
NPM  : 12111825


Manusia Dan Kebudayaan


MANUSIA DAN KEBUDAYAAN

Secara bahasa Manusia berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens” (Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk ang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain). Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu. Kita merupakan paduan antara mahluk material dan mahluk spiritual. Dinamika manusia tidak tinggal diam karena manusia sebagai dinamika selalu mengaktivisasikan dirinya. Berikut ini adalah pengertian dan definisi manusia menurut beberapa ahli:
1.  NICOLAUS D. & A. SUDIARJA   
Manusia adalah bhineka, tetapi tunggal. Bhineka karena ia adalah jasmani dan rohani akan tetapi tunggal karena jasmani dan rohani merupakan satu barang.
2.  ABINENO J. I
Manusia adalah "tubuh yang berjiwa" dan bukan "jiwa abadi yang berada atau yang terbungkus dalam tubuh yang fana".
3.  UPANISADS
Manusia adalah kombinasi dari unsur-unsur roh (atman), jiwa, pikiran, dan prana atau badan fisik.
4.  SOKRATES
Manusia adalah mahluk hidup berkaki dua yang tidak berbulu dengan kuku datar dan lebar.
5.  KEES BERTENS
Manusia adalah suatu mahluk yang terdiri dari 2 unsur yang kesatuannya tidak dinyatakan

Pengertian Kebudayaan Banyak berbagai definisi tentang kebudayaan yang telah di paparkan oleh para ahli. Dari berbagai definisi dapat diperoleh kesimpulan mengenai pengertian kebudayaan yaitu sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Kata budaya atau kebudayaan itu sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Secara lebih rinci, banyak hal-hal yang dapat kita pelajari tentang definisi kebudayaan. Bagaimana cara pandang kita terhadap kebudayaan, serta bagaimana cara untuk menetrasi kebudayaan yang faktanya telah mempengaruhi kebudayaan lain.

Sedangkan jika mereka saling di kaitkan antara Manusia dan Kebudayaan akan menimbulkan keselarasan yang tidak bisa di gambarkan oleh apapun. Seperti hal nya saja di Indonesia banyak budaya yang bermunculan satu per satu, itu akibat dari campur tangan manusia nya juga. Tanpa budaya manusia tidak dapat berekspresi dengan hati nya, tanpa manusia budaya tidak bisa hadir. Sebagai contoh saya akan mengambil gambar, bagaimana manusia menjaga dan melengkapi kebudayaan tersebut.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita harus lestarikan kebudayaaan yang sudah nenek moyang buat masa depannya kelak. Contoh masa depannya itu yaa kita !!! kita yang harus lestarikan dan jaga kebudayaan di Negara Indonesia ini.Memang banyak yang mengatakan kebudayaan luar atau yang bisa lebih di sebut kebudayaan barat lebih menonjolkan unsur modern, namun kita tak sepantasnya harus mengikuti perkembangan jaman yang berbaau tidak positif untuk kebudayaan ini. Justru kita harus berpatut bangga, banyak orang barat sana yang ingin belajar kebudayaan di Negara Indonesia ini, jika mereka yang berfikir positif ke depan itu akan menjadi investasi yang besar bukan untuk Negara Indonesia ini.

Nama     : Ferdy Robiyanto
Kelas      : 1KA12
NPM       : 12111825

Minggu, 01 Januari 2012

Pengalaman Pribadi 2


Menurut pendapat saya melakukan jiwa sosial sangat di perlukan dari sejak dini, kita   harus menerapkan untuk para generasi muda khususnya agar diterapkannya di dalam hati. Agar     tidak berakibat fatal ke depannya. Kini masih banyak kita liat korupsi  dimana mana, itu akibatnya mereka tidak menerapkan jiwa ke sosialan mereka sejak dini. Apa kita sebagai generasi muda akan mengikutinya? Tentu tidak. Kita harus bisa merubah bangsa Indonesia ini menjadi lebih baik dengan cara menerapkan jiwa sosial kita mulai saat ini.

Suatu pengalaman pribadi saya melakukan kegiatan sosial untuk membantu para saudara  kita di palestina yang sedang gencar-gencarnya di perangi oleh Israel. Sebagai kaum muslimin sudah sepantasnya kita membantu para saudara kita disana, walaupun tidak banyak setidaknya saya sudah berusaha dengan maksimal untuk membantu.  Saya mengerjakan kegiatan sosial ini   tidak sendirian, karena saya fikir tidak mungkin bisa melakukan ini dengan tangan saya sendiri. Akhirnya kita bersama sepakat melakukan kegiatan sosial ini dengan cara mempertandingan sepak bola antara SMA, dengan menjualkan tiket tiket pertandingan ke sekolah sekolah yang akan bertanding. Karena dengan cara itu bisa mendapatkan hasil yang lumayan untuk kita sumbangkan ke palestina.

Itulah mungkin sedikit pengalaman pribadi saya yang bisa saya ceritakan. Tidak sulit    menerapkan jiwa kesosialan di dalam hati, asalkan kita niatktkan pasti kita bisa. Khususnya kita para generasi muda yang akan memimpin Negara ini ke depannya, sudah sepantasnya kita        terapkan jiwa sosial kita dari sekarang. Jika tidak apa yang akan terjadi pada Negara ini akan ke depannya, pasti banyak kemiskinan di mana mana dan kelaparan di mana mana.

Pengalaman Pribadi


Hari ini tepatnya tanggal 21 desember 2010, seluruh angkatan sma  saya bergegas  dan berbondong – bondong dengan semangatnya untuk menuju ke kota Garut yaitu tepatnya di daerah Kampung Naga. Kita sepakat untuk memilih tempat itu karena kami ingin  melakukan field studi sekaligus melaksanakan kegiatan bakti sosial disana.
Perjalanan menuju Kampung Naga sangat tidak mudah. Karena letaknya tidak strategis dan di tambah jalan yang berkelok – kelok. Dari jalan besar saja kita harus berjalan kaki lagi kira – kira hampir 5 km untuk sampai di Kampung Naga. Bukan karena apa – apa, karena daerah mereka sangat tidak terima dengan budaya dari dunia luar, mereka tidak ingin budaya mereka tercampur oleh budaya dari dunia luar. Sedikit cerita saja disana belum terbiasa dengan adanya listrik, mereka masih menggunakan aki untuk menyalakan segala sesuatu yang berhubungan dengan listrik, maka dari pada itu salah satu dari kita kalau ada Handfone yang lowbet, kami harus berganti – gantian untuk mencharger handfone kami. Oh iyaaa disana juga terdengar kabar bahwa mereka menggunakan HANDFONE  hanya untuk kepentingan saja, hampir tidak ada yang memiliki HANDFONE.
Disana juga ada yang namanya kepala suku atau istilahnya pemimpin, dari turun temurun harus selalu ada yang namanya kepala suku, jika tidak Kampung Naga ini akan hancur. Kepala suku ini harus bertanggung jawab jika wilayahnya di injak oleh seseorang yang tidak di kenal. Maka dari pada itu Kampung Naga sampai saat ini masih terjaga kealamiannya. Disana juga diterapkan adanya puasa berbicara, tujuannya untuk mencegah kata – kata yang kasar. Saya hampir tidak percaya dengan adanya puasa berbicara, pikiran saya daerah ini menganut agama apa, ternyata tanpa saya duga agama islam disini sangat kuat. Mereka menerapkan agama islam sangat ketat sekali. Mulai dari dini anak – anak mereka di tuntun agar mengabdi pada agama islam. Seluruh penduduk disana rata – rata bermata pencaharian bercocok tani setiap harinya. Dan sebagian hasil taninya mereka jual ke kota untuk biaya hidup mereka.
Banyak cerita disana yang tidak bisa saya ceritakan satu per satu, saya mendapatkan pengalaman yang tak berharga ketika saya berada disana. Mulai dari bergotong royong, saling memperhatikan orang di sekitar. Seluruh angkatan saya pun sepakat untuk menyisihkan sedikit uang untuk kita kasihkan ke penduduk disana.
Memang benar kita hanya bisa membantu sedikit untuk kegiatan sosial ini, tapi setidaknya kita mempunyai niatan positif untuk membantu sesama yang membutuhkan. Jangan menjadi tempurung dalam cangkang, yang saat nya dia Berjaya, dia memasang muka seakan – akan tidak tahu apa – apa.  Saya berfikikr memang banyak suku, ras, dan budaya yang ada di Indonesia, tapi sudah sepantasnya pemerintah memikirkan untuk daerah – daerah yang terpencil. Bukan hanya Kampung Naga saja, masih banyak di luar sana  yang hampir sama dengan Kampung Naga.
Itu sedikit pengalaman bakti sosial saya di daerah Kampung Naga yang mempunyai arti banget di hidup.

Nama : Ferdy Robiyanto
Kelas : 1KA12
NPM : 12111825

Sabtu, 31 Desember 2011

Pelapisan Sosial dan Kesamaan Derajat


PELAPISAN SOSIAL DAN KESAMAAN DERAJAT



Dalam era modern seperti sekarang ini seharusnya sudah tidak terdapat lagi yang namanya membeda- bedakan kasta, derajat, yang miskin dan yang kaya. Hal seperti inilah yang dapat menyebabkan perpecahan di Negara kita Indonesia. Karena dengan adanya pemikiran seperti itu maka orang yang merasa berada pada lapisan masyarakat yang tinggi akan dapat dengan seenaknya menindas kaum-kaum yang berada dibawah mereka. Walaupun dalam keadaan dan kondisi tertentu pelapisan social masih berlaku dan harus tetap berlaku, seperti dalam sebuah institusi pendidikan ada guru dan ada murid, dalam suatu perusahaan ada atasan ( direktur, manager dll) dan ada bawahan ( staf, karyawan biasa) namun bukan berarti dengan adanya pelapisan social tersebut yang berada pada lapisan atas bisa seenaknya. Dalam kondisi yang demikian itu tetap harus ada timbale balik yang sepadan, seorang murid dan karyawan harus menghormati guru dan atasannya. Namun sebaliknya, sebagai guru dan atasan juga harus bisa menjadi contoh dan mengayomi murid dan bawahannya.
             Sejatinya manusia diciptakan oleh tuhan semua sama, tidak dibeda – bedakan. Dimata tuhan pun semua manusia sama hanya amal yang membedakannya. Inilah hakekat kesamaan derajat pada manusia. Pelapisan social sendiri sebenarnya yang membuat adalah manusia itu sendiri, namun apabila pelapisan social tersebut tidak di maknai dengan bijak akan terjadi banyak penyimpangan dan penyelewengan. Banyak contohnya, seperti majikan yang menyiksa pembantunya dan pejabat yang seenaknya memakan uang rakyat, itu merupakan akibat dari manusia yang lalai akan hakikatnya dan tidak memaknai pelapisan social secara bijak




PELAPISAN SOSIAL

              Pelapisan social merupakan sebuah budaya dimana dalam suatu masyarakat terdapat kasta-kasta yang membedakan antar masyarakat.  Masyarakat adalah indivIidu-individu yang terdiri dari berbagai latar belakang. Dan dari sinilah akan terbentuk suatu masyarakat heterogen yang terdiri dari kelompok-kelompok sosial. Betapa individu dan masyarakat adalah komplementer, yang dapat kita lihat dari kenyataan bahwa :
1. Manusia dipengaruhi oleh masyarakat demi pembentukan pribadinya
2. Individu mempengaruhi masyarakat dan bahkan bisa menyebabkan perubahan   besar masyarakatnya
Istilah strafikasi atau strafication berasal dari kata STRATA atau STRATUM yang berarti LAPISAN. Karena itu Social Strafication sering diterjemahkan dengan pelapisan masyarakat. Sejumlah individu yang mempunyai kedudukan yang sama menurut ukuran masyarakatnya, dikatakan berada dalam suatu lapisan atau stratum.
Pitirim A. Sorokin memberikan definisi pelapisan masyarakat, bahwa “Pelapisan masyarakat adalah perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas yang tersusun secara bertingkat.” Menurut Theodorson dkk. dalam Dictionary of Sociology, yaitu bahwa “Pelapisan masyarakat merupakan jenjang status dan peranan yang relatif permanen yang terdapat dalam sistem sosial dalam hal pembedaan hak, pengaruh, dan kekuasaan. Masyarakat yang berstratifikasi sering dilukiskan sebagai suatu kerucut atau piramida dari lapisan bawah yang melebar sampai lapisan atas yang semakin menyempit.


Teori pelapisan sosial
1. Sistem stratifikasi sosial sering berpokok pada sistem pertentangan dalam masyarakat.
2. Sistem stratifikasi sosial dianaisis dalam ruang lingkup unsur-unsur
a. Distribusi hak-hak istimewa yang objektif seperti misalnya penghasilan, kekayaan, keselamatan, wewenang, dan sebagainya
b. Sistem petanggaan yang diciptakan warga-earga masyarakat (prestise dan penghargaan)
c. Kriterian sistem pertentangan, yaitu apakah didapatkan berdasarkan kualitas pribadi, keanggotaan kelompok kerabat tertentu, milik, wewenang atau kekuasaan
d. Lambing-lambang kedudukan, seperti tingkah laku hidup, cara berpakaian, perumahan, kenaggotaan suatu organisasi dan selanjutnya
e. Mudah sukarnya bertukar kedudukan
f. Solidaritas diantara individu-individu atau kelompok-kelompok sosial yang menduduki kedudukan yang sama dalam sistem sosial masyarakat.

Kesamaan Derajat
Dalam Hidup bernegara tidak ada nya dibedakan mana penjabat dan rakyat dimata hukum.Kesamaan derajat dalam istilah dibidang Kewarganegaraan adalah sama dalam arti tidak membedakan atau mengistimewahkan seseorang. Kesamaan derajat tidak dilihat dari orang itu memliki harta berlimpah atau tidak,karena di mata Tuhan semua sama saja,hanya dibedakan dengan kesempatan dan takdir dari masing-masing orang.
Hendaklah kita saling membantu sebagai mahluk yang diciptakan menjadi mahluk sosial.Masih banyak saudara-saudara kita yang membutuhkan uluran tangan kita,setiap manusia sama semua derajatnya.
Mungkin banyak saat ini sikap saling memilih,oleh karena itu negara ini tidak berkembang,kini saatnya bukannya saling mendiskriminasi,tetapi saling melihat diri sikap dan perilaku kita.



 Nama : Ferdy Robiyanto
 Kelas : 1KA12
 Npm : 12111825

Masyarakat Perkotaan dan Pedesaan


MASYARAKAT PERKOTAAN DAN PEDESAAN



HUBUNGAN DESA DENGAN KOTA

Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komunitas yang terpisah sama sekali satu sama lain. Bahkan dalam keadaan yang wajar di antara keduanya terdapat hubungan yang erat, bersifat ketergantungan, karena di antara mereka saling membutuhkan. Kota tergantung pada desa dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan-bahan pangan seperti beras, sayur¬mayur, daging dan ikan.Desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi jenis¬jenis pekerjaan tertentu di kota, misalnya saja buruh bangunan dalam proyek¬proyek perumahan, proyek pembangunan atau perbaikan jalan raya atau jembatan dan tukang becak. Mereka ini biasanya adalah pekerja-pekerja musiman. Pada saat musim tanam mereka, sibuk bekerja di sawah. Bila pekerjaan di bidang pertanian mulai menyurut, sementara menunggu masa panen mereka merantau ke kota terdekat untuk melakukan pekerjaan apa saja yang tersedia.
Sebaliknya, kota menghasilkan barang-barang yang juga diperlukan oleh orang desa seperti bahan-bahan pakaian, alat dan obat-obatan pembasmi hama pertanian, minyak tanah, obat-obatan untuk memelihara kesehatan dan alat transportasi. Kota juga menyediakan tenaga-tenaga yang melayani bidang¬bidang jasa yang dibutuhkan oleh orang desa tetapi tidak dapat dilakukannya sendiri, misalnya saja tenaga-tenaga di bidang medis atau kesehatan, montir¬montir, elektronika dan alat transportasi serta tenaga yang mampu memberikan bimbingan dalam upaya peningkatan hasil budi daya pertanian, peternakan ataupun perikanan darat.

Dalam kenyataannya hal ideal tersebut kadang-kadang tidak terwujud karena adanya beberapa pembatas. Jumlah penduduk semakin meningkat, tidak terkecuali di pedesaan. Padahal, luas lahan pertanian sulit bertambah, terutama di daerah yang sudah lama berkembang seperti pulau Jawa. Peningkatan hasil pertanian hanya dapat diusahakan melalui intensifikasi budi daya di bidang ini. Akan tetapi, pertambahan hasil pangan yang diperoleh melalui upaya intensifikasi ini, tidak sebanding dengan pertambahan jumlah penduduk, sehingga pada suatu saat hasil pertanian suatu daerah pedesaan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan penduduknya saja, tidak kelebihan yang dapat dijual lagi. Dalam keadaan semacam ini, kotaterpaksa memenuhi kebutuhan pangannya dari daerah lain, bahkan kadang-kadang terpaksa mengimpor dari luar negeri. Peningkatan jumlah penduduk tanpa diimbangi dengan perluasan kesempatan kerja ini pada akhirnya berakibat bahwa di pedesaan terdapat banyak orang yang tidak mempunyai mata pencaharian tetap. Mereka ini merupakan kelompok pengangguran, baik sebagai pengangguran penuh maupun setengah penganggur





Pengertian Masyarakat Kota

Menurut Prof. Drs. R. Bintarto, kota adalah suatu sistem jaringan kehidupan manusia dengan kepadatan penduduk yang tinggi, strata sosial ekonomi yang heterogen, dan corak kehidupan yang materialistik. Istilah community atau komunitas dapat diartikan sebagai masyarakat setempat. Istilah yang mana menunjukkan pada warga sebuah desa, kota, suku atau bangsa (Soekanto, 2002). Apabila anggota-angota suatu kelompok, baik kelompok itu besar maupun kecil, hidup bersama sedemikian rupa sehingga merasakan bahwa kelompok tersebut dapat memenuhi kepentingan-kepentingan hidup yang utama, maka kelompok tersebut tadi disebut masyarakat.
Selain itu mereka hidup dalam lingkungan ekonomi dan perdagangan yang individualistik. Cara hidupnya mempunyai kecenderungan ke arah meterialistik. Terdapat kegiatan-kegiatan keagamaan tetapi pada umumnya berpusat di tempat-tempat ibadah, seperti mesjid, gereja dan sebagainya.
Masyarakat kota cenderung individualistik. Yang terpenting adalah manusia orang-perorangan, kehidupan keluarga sering sukar untuk disatukan karena perbedaan kepentingan, paham politik, agama dan seterusnya.


Pengertian pedesaan

Menurut Prof. Drs. R. Bintarto, desa merupakan perwujudan atau kesatuan geografi, social, ekonomi, politik dan kultural yang terdapat di situ (suatu daerah) dalam hubungannya dan pengaruhnya secara timbal-balik dengan daerah lain.


Namun demikian, perbedaan-perbedaan tersebut tidak bisa mememisahkan hubungan antara keduanya, karena antar keduanya saling memiliki keterkaitan satu dengan lainnya. Sebagai contoh, bagi masyarakat perkotaan, ketika mereka ingin berlibur, pasti mereka ingin berlibur di suatu desa yang sejuk dan damai, yang jauh dari kebisingan kota yang selama ini bergulat dengannya. Begitu pula bagi masyarakat pedesaan, ketika merasa pekerjaan di desa sudah tidak mencukupi lagi, pasti mereka ingin hijrah ke kota untuk mengadu nasib yang lebih baik lagi. Di sini terjadi hubungan antara keduanya. Ketika salah seorang dari  kota pergi berlibur ke suatu desa, mereka bertemu dengan penduduk di desa tersebut.
Dia bisa saja membawa salah satu dari orang desa tersebut untuk bekerja di kota karena ia melihat pekerjaan di desa sudah tidak mendukung dan masih banyak pekerjaan di kota yang menjanjikan. Di sinilah peran masyarakat kota untuk membuat lapangan pekerjaan untuk orang-orang dari desa yang hijrah ke kota. Jika semakin banyak masyarakat desa yang hijrah ke kota, maka seharusnya semakin banyak pula lapangan pekerjaan yang harus disediakan. Tapi, jika lapangan pekerjaan yang disediakan sedikit, sedangkan masyarakat desa yang hijrah ke kota semakin banyak, maka justru akan terjadi peningkatan angka pengangguran di kota. Jadi intinya, masyarakat perkotaan secara tidak langsung membutuhkan adanya masyarakat pedesaan, begitu pula dengan sebaliknya, masyarakat pedesaan juga membutuhkan keberadaan masyarakat perkotaan, meskipun keduanya memiliki perbedaan ciri-ciri dan aspek-aspek yang terdapat di dalam diri mereka. Keduanya memiliki aspek positif dan aspek negatif yang saling mempengaruhi keduanya dan saling berkesinambungan.

Nama : Ferdy Robiyanto
Kelas : 1KA12
NPM : 12111825